Wake Up Call, Strategi Investasi Menikmati Hidup
Pengalaman hidup saya mengajarkan bahwa kemauan harus dilandasi dengan tekad yang bulat, harus relevan realistis, dan harus berani mengambil sikap dalam setiap peluang yang ada. Dengan cara seperti ini, keberhasilan bukan saja berpihak kepada orang pintar, namun menjadi milik orang-orang yang senantiasa belajar dan berusaha. Memang dalam case-case ttt, orang "pintar" di bisnis dan keuangan akan dengan mudah beralih dari satu bisnis ke bisnis lainnya dengan berhasil karena ia punya banyak kemampuan dan peluang di genggamannya. Sebaliknya, orang "bodoh" mau tidak mau harus menuntaskan satu dulu bisnisnya yang tidak kunjung berhasil itu, ia akan kelihatan sangat sibuk, tak kunjung ada hasil hanya untuk menamatkan narasi yang ia janjikan.
Wake up call, strategi investasi menikmati hidup ini saya kembangkan dari Metode LKH (Lo Kheng Hong) tentang investasi damai untuk menikmati hidup sebagaimana ala ajaran RVW (Rip Van Winkle). Garis besar strateginya adalah: (1) Pertama, carilah saham perusahaan rintisan dan pioner atau bahkan yang mature yang kondisinya bagus (wonderful company), tetapi harga sahamnya masih berada di posisi salah alias underpricing dengan menggunakan angka PER (Price Earning Ratio) dibawah 0,5 kali dan PBV (Price to Book Value) dibawah 0,5 kali sebagai acuan. (2) Kedua, jelilah menemukan informasi dengan mengenali fundamental masing-masing perusahaan potensial tsb sebelum memutuskan untuk membeli saham tsb, (3) Ketiga, buat mindset membeli saham artinya membeli bisnis perusahaan tsb. Dasarnya apa? dasarnya adalah membeli saham perusahaan di level harga yang jauh dibawah valuasinya adalah keharusan/ kuncinya.
Manfaat cara diatas akan memposisikan kita unggul dan berada di Margin of Safety (MOS) yang besar dan bagus. MOS ini yang akan melindungi kita dari rugi besar karena cara valuasi di lapangan yang salah. Apa indikator valuasi yang salah? Kondisi perusahaan yang dibeli tidak sama seperti yang diharapkan; semua harapan ekspektasi kita pada perusahaaan itu tidak terwujud, salah kabeh, bahkan beritane do ngapusi kabeh, tidak riel sesuai cermin laporan keuangan. Ini yang membuat keuntungan tidak terwujud. Tentu situasi ini membuat kita tidak lagi bisa investasi menikmati hidup.
Urusan jam terbang sangat berpengaruh ya. Tim dan orang-orang didalam tsb haruslah hebat di analisis riel lapangan dan paham betul dimana letak utama intrinsic value. Kita para investor atau pebisnis dituntut untuk punya insting dan keyakinan teruji waktu (conviction) terhadap prospek dan situasi suatu perusahaan yang sedang kita incar. Manakala incaran tsb gagal, artinya kitalah yang belum cukup pintar melihat kondisi pasar. Sebaliknya, jika berhasil maka insting, conviction, dan jam terbang anda perlu diacungi jempol.
Masalah di lapangan adalah: (1) Investasi saham terlanjur disalah artikan sebagai petualangan mencari "saham salah harga" atau underpricing dengan tujuan kita bisa mengeksploitasi selisih harga keuntungannya kedepan. Inilah kenapa tugas normatif para analist ini banyak terkunci di mengamati pergerakan candle dan trend saja. (2) Masalah yang kedua, pemahaman ilmu populer yang banyak mengarahkan ke langkah stock picking strategy; ini jelas akan banyak orang yang bakal salah praktik untuk get rich quickly. Semua orang akan lupa bahwa tidak ada pembelajaran dan pengalaman instan di dunia ini. Dibutuhkan otot kawat tulang besi untuk menguji kekuatan fear dan greedy, kematangan mental, emosi agar tetap bisa bertahan dan unggul dalam ritme menang kalah. (3) Masalah ketiga, akan banyak back testing untuk menentukan sistem gugur tapi tidak disadari. Di poin ini sebetulnya kita mulai melompat dengan pertanyaan "kenapa kita tidak mencari pendekatan baru yang lebih santai dan bisa menikmati hidup sebagaimana cara LKH dan RVW?" Mungkin ditemukannya cara ini akan membuat hidup anda lebih tenang secara strategi investasi dan bisnis.
Lalu solusinya bagaimana? Saya mengawali dengan Richard Thaler pakar ekonomi keuangan dari University of Chicago yang mengatakan bahwa "RVW (Rip Van Winkle) would be the ideal stock market investor". Bahwa dengan berfokus pada investasi long-term di saham yang intrinsic value-nya bagus selama 5-10 tahun kedepan maka akan membuat kita bisa tidur pulas, tidak mudah kemrungsung dengan semua berita fundamental yang ada di sekitaran kita. Kuncinya memang hasil lebih bagus jika kita memfilter saham-saham perusahan berfundamental kuat dengan harga jual saham yang masih murah (underpricing).
Sebelum penutup. Realitas hari ini kadang kita merasa hari ini kita yang paling relevan dengan semua teori-teori dan narasi-narasi yang dibentuk. Nyatanya ilmu kita sudah tertinggal jauh 20 tahun yang lalu, kawan kita ternyata tidak mengenali kita, keluarga kita tidak mengenali kita, bahkan anak istri tidak juga mengenali kita. Lalu siapa kita yang tidak relevan ini di zaman ini kalau seperti itu? Inilah pentingnya untuk belajar, mau terus mendengar, dan mengutamakan kontribusi berdasarkan kapakaran sehingga semua informasi A1 (menemukan intrinsic value meyakinkan).
Penutup. To the point saja ala Jawa Timuran "jangan membeli kuncing dalam karung". Awas modus penipuan, jangan mudah tergelincir dalam situasi-situasi bisnis dan investasi yang paradoks bias dan anomali; scam alert.
Salam,
Bahrul Fauzi Rosyidi,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Tulisan dilindungi hak cipta!

Comments
Post a Comment